Radio Sushi 99.1 FM

BUTUH KOLABORASI HADAPI PANDEMI COVID-19 Evaluasi Selalu Prokes di Sekolah

74

Padang,
Penerapan protokol kesehatan Covid-19 hendaknya selalu dievaluasi, sehingga dapat menghindari anak terpapar virus corona. Selain itu diperlukan kolaborasi semua pihak agar pelaksanaan prokes berjalan baik.

Demikian kesimpulan talkshow di Radio Sushi 99.1 FM, kerjasama Harian Singgalang dengan Satgas Covid-19 –BNPB, Sabtu (20/3) dengan tema “Menyigi Protokol Kesehatan di Sekolah Pasca 1 Tahun Pandemi”.

Dipandu penyiar Sushi 99.1 FM, Aldo narasumber yang dihadirkan melalui Aplikasi Zoom yakni Anggota Komite salah satu SD di Kota Padang, Hendra Makmur dan Pengamat Pendidikan Universitas Negeri Padang, Fitri Asih.

Fitri Asih mengakui dilaksanakannya sekolah tatap muka menjawab keresahan masyarakat yang kesulitan mendidik anak di rumah. Guru tidak selalu bisa membantu dengan memberikan pelajaran dari jauh. Tapi dengan syarat memperhatikan beberapa hal, zonasi yang boleh. Adalah yang hijau, tapi hampir tidak ada hijau. Zona yang kuning diizinkan, tapi dengan prokes yang ketat.

Kemudian, sekolah harus memiliki standar kesehatan yang ketat. Pengaturan jarak siswa, jam belajar. Dan guru siswa yang harus sehat. Karena dilema dan fenomena masyarakat. “Awalnya, aman-aman saja. Kemudian dikagetkan dengan kasus positif pada sekolah di Kota Padang. Sebagai pendidik, kita shock, setelah aturan dibuat, kenapa masih ada kasus”, ungkapnya.

Diakuinya, untuk sarana dan prasarana tidak masalah, tapi membangun kebiasaan. “Kita bersyukur sangat konsen pemerintah daerah. Membangun habitan siswa dan guru. Tenaga kependidikan. Semuanya human, punya dua sisi,” katanya.

Dikatakannya, dari posisi siswa, orang tua hendaknya memberikan pemahaman yang cukup dengan ilmu Covid-19. Kalau berbicara kebiasaan, ini tidak mudah membangunnya, perlu sinergis. Tidak bisa sendiri-sendiri, tapi bersama.

Aspek masyarakat, guru, sekolah dan perwakilan orang tua yang bagian dari masyarakat. Keempat aspek ini bersinergi, maka pendidikan akan baik masa pandemi ini. Tidak akan ada siswa yang terpapar oleh Covid-19.

Dari sekolah banyak aspek, pertama proses pembelajaran. Utama itu kebiasaan itu dibangun dari keteladanan. Konstektual dibangun dari pengalaman, pertama dari observasi, lingkungan. Maka lingkungan yang dibangun dulu.

“Jika lingkungan sudah mengingatkan, maka anak akan mengikuti. Pengecekan suhu, cuci tangan adalah awal. Prosesnya nanti diperlukan berkelanjutan. Bagaimana prokes yang tepat. Contohnya masker, berbagai macam cara menggunakannya. Penggunaan masker yang salah, terkadang, kita membukanya saat berbicara. Edukasi ini mesti diberikan dengan tepat,” ulasnya.

Ditambahkannya, membangun kebiasaan taat prokes itu butuh proses, guru mencontohkan. Selain mencontoh, dan jangan lupa untuk mengingatkan. Pada fase orientasi sebelum belajar, membangun karakter, ini penting untuk prokes. Perlu setiap hari mengingatkan, semacam semboyan-semboyan.

“Jika menggunakan masker adalah tindakan, maka tindakan ini tiap hari perlu kita siram. Kemudian perlu memulai proses. Karena lengah, menganggap enteng. Kita tidak melihat contoh dampak orang yang terkena Covid-19. Disesuaikan dengan mata pelajaran, jika tidak terkait, maka perlu diingatkan setelah pulang pentingnya prokes,” paparnya.

Berikanlah pengarahan sesuai dengan zaman dan tingkat umurnya. Cara pemberitahuannya berbeda-beda. Sesuaikan nantinya, guru itu tidak hanya membangun pengetahuan, memberikan pengetahuan adalah pengajar, tapi juga memberikan karakter memberikan nilai.

“Saya melihat, standarnya sudah ada. Saya melihat sudah sangat baik sekali. Yang saya amati, setiap pergantian anak masuk sekolah, semua bangku dan meja disemprot disinfektan lagi. Untuk pertukaran shif yang perlu dievaluasi, pintu masuk dan keluar dibedakan. Karena saat pertukaran jam pergantian shiff, inilah terjadi perkumpulan anak. Ini perlu dievaluasi”, sebutnya.

Karena pada saat masuk, kan sudak dicek suhu dan kondisi kesehatan. Saat itu adalah titik penting. Itu bisa diatasi dengan menjaga jarak. Di sekolah swasta lebih terukur. Karena di sekolah swasta sangat memperhatikan itu, karena intervensi orang tua sangat besar.

Dikatakannya, pendidikan itu perlu ditanamkan dari rumah, orang tua ibu terutama ayah, mengingatkan pakai masker. Kita yang mencontohkan, penting sekali orang tua memberikan pemahaman. Untuk itu orang tua harus paham dulu dengan prokes, baru mencontohkan.

Orang tua peduli diri sendiri dulu, Orang tua wajib dan harusnya sudah paham dengan prokes. Kalau orang tua belum paham, itu perlu juga informasi dari Dinas, makanya ini diperlukan sinergis. Ditingkat masyarakat, bagaimana bisa memberikan informasi terkait Covid-19. Tingkat RT dan RW dapat membantu sosialisasikan, karena sebagian masih ada yang menganggap covid-19 itu tidak ada.

Lingkungan itu tidak hanya satu rumah. Untuk itu perlu RT dan RW, gotong royong, penanganan Covid-19 tidak bisa sendiri-sendiri. “Bagaimana kita bersama-sama,” katanya.

Menurutnya, saat ini prokes di sekolah sudah berjalan baik. Yang perlu diperhatikan, selepas dari lingkungan sekolah. Kalau di sekolah sudah berjalan dengan baik. Kalau SD dan SMP masih dijemput, masih terkontrol. Yang perlu diperhatikan itu SMA ke atas. Dikawatirkan di sana. Di sekolah memang terkontrol, di luar itu nanti, Jam-jam itu masih ada siswa berkumpul.

Peran lingkungan dan masyarakat, tidak selesai dengan sekolah dan rumah. Kalau sudah mulai longgar, maka terpapaparlah. Di sekolah, sudah ketat, ada komite, orang tua siswa. “Sebagai orang tua, guru dan warga kota, kita harus tetap berikan peringatan untuk taat prokes”, pintanya.

Pemerintah Daerah hendaknya juga memberikan penghargaan bagi sekolah yang menerapkan prokes yang ketat. Tapi jangan berikan hukuman bagi sekolah yang belum menjalankan prokes dengan baik.

Anggota Komite salah satu SD di Kota Padang, Hendra Makmur, sebagai orang tua ia memperhatikan sejumlah sekolah. “Saya perhatikan, di pintu masuk itu ada tempat cuci tangan. Sebelumnya juga ada kesepakatan orang tua dengan pihak sekolah. Agar anak dijemput. Dan itu dilaksanakan.” katanya

Anak tidak masuk penuh, masuk dibatasi. Itu yang dilihat dipraktekan di sekolah. Diantar dan dijemput lagi ke sekolah. Itu menjadi kesepakatan orang tua dan sekolah, ditandatangani.

Dari penerapan prokes di sekolah, kendala berarti, mestinya seluruh pihak. Untuk orang tua yang komit, mereka mengantar anaknya pakai masker. Pada anak-anak perlu ditekankan, bagaimana melaksanakan prokes. Orang tua hendaknya menekankan pada anaknya, untuk mentaati prokes.
“Saya sendiri selalu menekankan, pada anak saya. Hal seperti ini mesti inten dilakukan juga oleh sekolah,”ujarnya.

Kendalannya, selain sekolah, orang tua juga harus menekankan pentingnya prokes ditaati. Sampaikan agar anak bisa paham. Peran komite sekolah, banyak aturan sekolah selalu meminta pendapat komite. Khusus untuk Covid ini karena memang protokolnya sudah jelas, dan semua aturannya sudah ada.

Hendra juga sepakat dengan pergantian waktu, pintu dibedakan masuk dan keluar. Ada beberapa sekolah ada yang membedakan. Membedakan jam keluar, memberikan ruang agar anak tidak berkumpul-kumpul.

Anak juga hendaknya diperhatikan sampai keluar pagar. Karena di luar ada yang jualan, mereka kumpul di sana. “Seperti itu sering saya lihat. Sepertinya sekolah lebih ekstra. Ini memang menambah kerja guru, tapi harus kita lakukan untuk melindungi anak-anak dari terpapar Covid-19,” katanya.

“Sekolah perlu juga menurunkan tim, agar menerapkan prokes ketat. Seperti dengan menyemprot bangku dan meja dengan disinfektan. Melibatkan anak-anak dalam membersihkan, dan menyiram disinfektan akan mendidik anak-anak lebih paham dengan prokes Covid-19,” tambahnya.

Ia setuju orang tua sangat berperan penting dalam menanamkan taat prokes bagi anak. “Dulu kita merindukan anak ke sekolah, sekarang sudah dapat ke sekolah. Untuk itu syaratnya dipenuhi. Meski begitu memang tidak seluruh orang tua yang mematuhinya. Karena tidak percaya, dan faktor lainnya,” ulasnya.

Sekarang saatnya sekolah mengingatkan orang tua. Kirim surat lagi pada orang tua, evaluasi, bagaimana protokol kesehatan diterapkan. Pandemi juga terkait dengan menjaga imun, untuk itu saran-saran dokter seperti berjemur. “Itu perlu juga diingatkan bagi anak-anak. Pihak sekolah selalu mengeveluasi, kirim lagi surat untuk mengingatkan,” pungkasnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.