Radio Sushi 99.1 FM

Mencegah Wartawan Terpapar Covid-19

29

Padang, Andiko Sigit kembali hadir lagi sebagai penyiar talkshow BNPB di Radio Sushi 99.1 FM, Selasa (29/12).
Talkshow melalui aplikasi Zoom itu menghadirkan dua orang narasumber, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Barat, Heranof Firdaus dan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Sumatera Barat, Andika Khagen.
Mencegah Wartawan Terpapar Covid-19, topik dari talkshow yang disiarkan secara langsung dari lantai dua kantor Harian Singgalang.
“Dari awal pandemi Covid-19, pada Maret lalu, kami sudah mengingatkan kepada wartawan agar waspada dalam peliputan. Dan mulailah berinovasi dengan melakukan konfirmasi yang jelas melalui kecanggihan teknologi, seperti wawancara lewat telepon ataupun Zoom Meeting,” ucap Heranof.
Namun ia tidak bisa hindari juga ketika ada wartawan yang terpapar Covid-19. Bisa saja penularannya ketika berintekrasi dengan teman-teman ataupun keluarga dan tak terkecuali dengan narasumber. Sebab, wartawan merupakan salah satu profesi yang dianggap rentan terpapar Covid-19. Apabila ada yang terpapar, melakukan tracking yang pernah kontak. Kemudian untuk swab, PWI bekerjasama dengan pihak rumah sakit ataupun puskesmas setempat. Kemudian, dengan BPBD setempat menjalin kerjasama untuk penyemprotan secara rutin di kantor-kantor yang ada di Kabupaten Kota se-Sumatera Barat. Tak ketinggalan menyediakan masker dan disinfektan bagi mereka yang membutuhkan.
Lebih lanjut dijelaskannya, kalau pandemi ini memberikan dampak ekonomi terhadap media.
“Dampak ekonominya sangatlah besar. Banyaknya media yang melakukan pengurangan karyawan dan mengurangi penghasilan mereka,” jelasnya.
Solusi yang dilakukan pemerintah pusat adalah melalui program fellowship jurnalisme Ubah Laku kepada para wartawan. Selama program berlangsung para jurnalis berkreasi memberikan edukasi melalui tulisannya, bagaimana mengubah perilaku masyarakat di era new normal ini.
“Di Sumbar, ada 150 orang wartawan yang mendapatkan beasiswa tersebut dan ada 200 lebih wartawan tidak mendapatkan kouta fellowship itu. Kenapa sedikit, karena, Sumbar saat itu belum masuk kategori zona merah,” jelasnya.
Namun ia berharap, pemerintah daerah pun melakukan fellowship dengan menganggarkan sedikit dananya untuk kesejahteraan para jurnalis. “Saran saya kalau ada sisa anggaran yang bisa digunakan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat melalui tulisan. Seperti halnya yang dilakukan pemerintah pusat. Kami kembali mengingatkan, BPBD Sumbar melakukan hal tersebut. Itu adalah cara edukasi kepada masyarakat,” tegasnya.
Disamping itu, ia mengimbau kepada perusahaan pers untuk memberikan kelonggaran kepada jurnalisnya untuk bekerja diluar. Seperti membuka usaha.
Hal senada disampaikan Andika Khagen. “Sejak pandemi ini, kami tekankan kepada teman-teman dilapangan kalau keselamatan nomor satu. Kemudian kami membuat SOP cara bekerja media daring ataupun cetak selama pandemi. Proses wawancara bisa dilakukan melalui telepon ataupun meeting Zoom. Untuk SOP televisi agak dilema. Sebab, teman-teman televisi, wajib turun ke lapangan mengambil visualnya, walaupun di tengah pandemi,” jelasnya. Alhasil, wartawan televisi yang banyak terpapar virus Corona. Angkanya, mencapai 60 persen.
Ditambahkannya, salah satu inovasi yang dilakukan teman-teman jurnalis televisi yang tergabung dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia Sumatera Barat (IJTI Sumbar) yakni dengan jumpa pers secara virtual. Itu dilakukan selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Setelah new normal, orang sudah boleh keluar, dan bertemu serta ekonomi berjalan lagi.
Menurutnya potensi paling dasar berasal dari diri sendiri. Tugas dari organisasi adalah mengingatkan bahwa ancamannya masih nyata dan penularannya semakin bertambah cepat.
Dijelaskannya, ada 60 persen masyarakat sudah mengetahui apa itu protokol kesehatan 3 M, memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan hand sanitizer ataupun sabun. Sisanya belum tahu atau masa bodo dengan pandemi ini. Nah, disitu tugasnya para jurnalis memberikan edukasi kepada mereka. Intinya, peran media sangat penting dalam memberikan edukasi kepada masyarakat yang belum percaya, adanya virus Covid-19. (009)

Leave A Reply

Your email address will not be published.