Radio Sushi 99.1 FM
redporn twinks recorded their private sex.
dailypornhd.pro
fsiblog

Jangan Abaikan Prokes Covid-19

143

Padang – Patuhi protokol kesehatan (prokes) Covid-19 kemana pun pergi. Jangan abai. Kalau abai risikonya, berdampak terhadap diri sendiri dan keluarga serta orang-orang yang disayangi. Selama positif, selama 14 hari tidak bisa ketemu mereka.
Itu disampaikan Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Sumbar, Sunardi, M. Kes ketika talkshow Kerjasama Harian Singgalang dengan BNPB dan Satgas Covid-19 di Radio Sushi 99.1 FM, Jumat (28/5).
Dalam talkshow yang dipandu andiko Fani melalui aplikasi Zoom Meeting ini, Sunardi mengatakan dibutuhkan kesadaran masyarakat menerapkan prokes Covid-19, 5 M.
Yakni, patuhi protokol kesehatan (prokes) 5 M. Mulai dari selalu memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak minimal satu meter, menjauhi kerumunan dan membatasi mobilisasi dan interaksi.
Ia pun khawatir dengan banyaknya informasi hoax yang beredar ditengah masyarakat. Sudah berulang kali dijelaskan kalau virus itu masih ada. Salah satunya cara memutus mata rantai penyebarannya adalah patuhi prokes Covid-19.
“Sayangi diri sendiri dan keluarga. Jangan sampai menjadi penular virus ke orang-orang yang disayangi,” ucap Sunardi yang mengakui kalau masyarakat masih abai, tentu para dokter dan tenaga medis mulai jenuh. Belum lagi kondisi rumah sakit yang ruangannya untuk pasien positif Covid-19 yang sudah mulai penuh.
Lebih lanjut dikatakannya, hampir semua para perawat sudah pernah terpapar virus ini. Tapi, belum ada perawat di Sumbar ini yang meninggal akibat terpapar Covid-19. Selain menerapkan prokes yang ketat, ia bersama teman-teman perawat lainnya, tetap berusaha meningkatkan daya tahan tubuh. Sebab, virus akan mudah masuk apabila kondisi tubuh kurang fit.
“Jika Anda sayang diri sendiri dan keluarga, patuhi prokes Covid-19,” tegasnya.
Hal senada juga disampaikan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sumbar, Dr. Pom Harry Satria sebagai narasumber dalam talkshow yang berlangsung selama sejam ini.
Menurutnya, kondisi pandemi Covid-19 bukan hal baru, tapi sudah dihadapi sejak awal 2020 lalu. Di Sumbar terutama cabang IDI kabupaten kota saling bersinergi memberikan dukungan menghadapi pandemi ini.
“Kita mulai pandemi ini dari bermacam polemik dinamika dari ketidaktahuan secara lengkap hingga kondisi sekarang. Nah, yang sekarang kita hadapi sekarang bukan lagi pemahaman tentang apa itu Covid-19 lagi. Namun, bagaimana tentang perobahan perilaku yang belum tercapai, dalam kondisi new normal,” jelasnya.
Lebih lanjut dikatakannya, peningkatan kasus dari hari-hari besar sudah diprediksi sebelumnya. Seperti adanya silaturahmi bertemu dengan keluarga dan teman. Dan kontak fisik merupakan suatu peluang peningkatan penyebaran virus Corona.
Tantangan terbesarnya, merobah perilaku masyarakat di era new normal ditengah wabah virus Corona. Yakni, patuhi protokol kesehatan (prokes) 5 M. Mulai dari selalu memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak minimal satu meter, menjauhi kerumunan dan membatasi mobilisasi dan interaksi. Dengan harapan semua kegiatan aktivitas, sosial, pendidikan dan rekreasi bisa berjalan sesuai dengan kebijakan pemerintah.
Tantangan muncul terjadinya mutasi virus, ditambah pula beberapa negara telah mengalami, tsunami Covid-19 seperti India.
Apapun kondisinya, penyelesaian masalahnya apabila ditemukan obat dan vaksin. Sayangnya, dua hal itu proses yang belum didapatkan sepenuhnya.
Ia melihat kondisi pandemi ini menjadi adaptasi new normal yang terukur. Ada banyak faktor yang sangat menentukan yang mempengaruhi keberhasilan pemerintah dalam mengatasi persoalan peningkatan lonjakan angka positif dan penyebaran Covid-19 ditengah masyarakat. Kembali kebijakan dan dukungan yang dirancang pemerintah daerah, kabupaten dan kota menghadapi wabah pandemi corona.
“Saya mengamati, permasalahan terbesar yang dihadapi adalah bagaimana prokes berjalan dengan baik ditengah masyarakat,” jelasnya.
Apapun yang dipersiapkan, mulai dari fasilitas kesehatan, dokter, tenaga kesehatan dan penunjang lainnya tentu ada batasannya. Semua itu tidak mampu lagi menampung pasien Covid-19.
Mulai dari ruang rawatan Covid-19 yang penuh hingga dokter dan tenaga kesehatan lainnya tak mampu lagi memberikan pelayanan kepada pasien Covid-19.
“Kita saja para dokter di Sumbar sudah kehilangan dua dokter terbaik. Beberapa bulan lalu, kita kehilangan dokter spesialis penyakit dalam yang terpapar virus Corona. Terakhir, dua minggu lalu kami berduka, kehilangan dokter pejuang Covid-19 cabang Pasaman. Beliau menjalankan aktivitas dan terpapar virus Corona. Kita semua dokter maupun perawat akan menghadapi kondisi tidak bisa mencari tambahan tenaga maupun fasilitas kesehatan,” jelasnya.
Kunci keberhasilan melawan virus adalah wajib menerapkan prokes dalam kehidupan sehari-hari. Dan pemerintah provinsi, kabupaten dan kota mengawal apakah prokes ini berjalan dengan baik.
“Intinya, virus ini sangat berkaitan dengan kontak fisik. Ketika kontak fisik terjadi, maka risiko penularan akan meningkat. Dan akan berbahaya bagi mereka yang ada penyakit penyerta, anak-anak, orang tua dan ibu hamil,” jelasnya.
Masyarakat sudah mulai jenuh. Begitu juga dengan dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Untuk itu mari sama-sama patuhi prokes.
Untuk penerapan prokes itu, pemerintah sudah mengeluarkan perda. Tinggal mengimplementasikannya bisa berjalan di tengah masyarakat tentunya dengan kearifan lokal dan agama. Dan Sumbar punya tokoh agama dan adat. Itu merupakan keunikan masing-masing kabupaten kota.
“Ajak mereka untuk memberikan informasi kepada masyarakat,” jelasnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

https://vlxxviet.net milf porn black porn