Radio Sushi 99.1 FM

UMSB Press Diresmikan, Buku Parik Putuih DalamHikayat Diluncurkan

37

BUKITTINGI
-Dalam upaya menaungi para civitas akademika terutama dosen penulisdalam mempublikasikan tulisannya berbentuk buku dan monograf yang dapatdimanfaatkan oleh mahasiswa dan masyarakat, Rektor UMSB Dr Riki Saputra akanmeresmikan berdirinya UMSB Press tanggal 13 Mei 2020 di Padang.
Sebagai sebuah Unit Pelaksana Teknis (UPT), UMSB Press diharapkan dapat mendoronglahirnya penulis-penulis handal dari sisi akademik dan menghasilkan buku-buku ajarberkualitas termasuk monograf dan buku ilmiah populer lainnya.
Bersamaan dengan itu, Rektor UMSB Dr Riki Saputra juga akan meluncurkan bukuproduksi perdana UMSB Press berjudul “Parik Putuih dalam Hikayat: Warih Nan Bajawek.Pusako nan Batarimo”. Buku ini merupakan karya Efri Yoni Baikoeni, dosen UMSB danFahrial Ajisman, seorang praktisi dunia pertambangan batu bara di Kalimantan.
Bedah buku secara virtual dalam suasana PSBB di Sumbar tersebut menghadirkan parapakar dan narasumber yaitu: Dr. Zulqayyim, M.Hum, dosen Sejarah Universitas Andalas(UNAND) dan Brigjen (Purn) H. Maini Dahlan, tokoh masyarakat Parik Putuih di Jakarta.

Seminar yang juga menghadirkan kedua penulis tersebut diikuti sebanyak 96 orang(kapasitas 100) yang terdiri dari dosen dan mahasiswa UMSB, anggota jaringan AsosiasiPenerbitan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiah (APPTIMA), warga dan perantauParik Putuih di seluruh Nusantara serta para peminat buku dan penggiat literasi.
Menyambut acara tersebut, Rektor UMSB menyatakan bahwa buku produk perdana UMSBPress ini sangat penting. Ada tiga alasan pentingnya kehadiran buku ini.
Pertama untuk dapat mengisi kekosongan yang ada “narrowing gap” karena belumditemukan buku yang mendiskusikan Parik Putuih secara utuh. Parik Putuih adalah sebuahkampung dalam Nagari Ampang Gadang yang berada di lereng Gunung Marapi,Kecamatan Ampek Angkek. Sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda, Parik Putuihterkenal sebagai kampung sentral produksi bakik yaitu sandal yang terbuat dari kayu“tangkelek”. Jumlah produksinya yang besar sempat menempatkan jorong ini sebagaiprodusen tangkelek tertinggi yang memasok ke seluruh Sumatera Barat, bahkan luardaerah.

Kedua, berbagi semangat kepeloporan (pioneerism) karena dalam buku ini terdapatdeskripsi dari sosok, profil maupun tokoh inspiratif dan berdedikasi yang menentukancorak Parik Putuih di masa lalu dan kini.
Ketiga, sebagai legacy karena tujuan hidup orang Minangkabau adalah untuk berbuat jasakepada kampung halaman dan masyarakat.

Selain itu, bagi UMSB sendiri, buku dengan ketebalan 324 halaman tersebut sangat
bermakna karena merupakan produk perdana UMSB Press sebagai penerbit universitas.
Kehadiran buku ini menjadi “milestone” dalam perjalanan UMSB dan diharapkan dapat
memacu lahirnya buku-buku lain yang ditulis oleh para dosen penulis UMSB.
Salah satu benang merah dalam buku ini yang cukup menarik adalah terungkapnya
hubungan historis kampung Parik Putuih dengan organisasi Muhammadiyah. Mungkin
tidak banyak yang tahu bahwa organisasi Muhammadiyah pernah eksis di Jorong Parik
Putuih. Karena mandeknya kaderisasi menyebabkan keberadaanya sempat lenyap ditelan
masa.
Setelah hampir tiga dekade, ruh Muhammadiyah seolah bangkit kembali. Warga Parik
Putuih yaitu Keluarga Rumah Gadang Suku Simabur mewakafkan tanah yang cukup luas
(2.500 M2) kepada Pondok Pesantren Tahfidzhul Qur’an Mu’allimin Muhammadiyah Sawah
Dangka. Tidak hanya itu, perantau Parik Putuih di Bandung membantu pembangunan
gedung yang representatif guna memperluas aktivitas pondok pesantren tersebut.

Karena itu, Muhammadiyah Sumatera Barat sangat berhutang budi kepada masyarakat
Parik Putuih yang telah berkontribusi dalam menyuburkan organisasi ini sehingga dapat
menjalankan misinya dengan baik.(Yanti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.